Zero Human Trafficking Network

Connecting People, Make the Movement Visible

SHAPER Selenggarakan Webinar Pendidikan Seksual dan Pola Asuh Positif dalam Mencegah Perkawinan Anak

Facebook
Twitter
LinkedIn

SHAPER merupakan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pemuda-pemudi dan juga wanita di Indonesia agar memiliki kepemimpinan yang berkarakter dan mampu mewujudkan dampak nyata untuk komunitasnya.

SHAPER menghadirkan sebuah program ACHIEVE (Aspiring Character and Leadership Enhancement of Vision for Youth Empowerment), adalah program pengembangan diri dan kemampuan kepemimpinan untuk pemuda di Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.

Peserta dari program ini terbagi dalam beberapa grup. Grup 1 menyelenggarakan Webinar Pendidikan Seksual dan Pola Asuh Positif dalam Mencegah Perkawinan Anak.

Perkawinan anak menjadi salah satu isu yang menjadi penyebab terjadinya Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Indonesia. Tingginya angka perkawinan anak memicu terhambatnya perkembangan anak secara pribadi juga merusak kemajuan sosial dan ekonomi serta komunitas tempat tinggal mereka.

(Foto: Moderator dan Narasumber)

Webinar ini berlangsung pada Sabtu (06/04/2024), pukul 15.00-16.30 WITA. Webinar ini hadir dalam rangka meningkatkan kapasitas pemuda/i tentang kesehatan reproduksi dan pola asuh yang tepat dalam keluarga agar dapat membentuk generasi yang lebih berkualitas di masa depan di wilayah Indonesia Tengah dan Indonesia Timur.

Menggandeng dr. Yudhan Triyana,S.Ked.,M.MRS sebagai narasumber utama, webinar ini berlangsung pada Sabtu sore (06/04/2024) dengan di hadiri oleh 70 peserta.

dr. Yudhan menjelaskan secara jelas tentang perkawinan anak, Hak Kesehatan Sosial Reproduksi (HKSR), aturan yang berlaku tentang perkawinan, faktor-faktor penyebab, sampai pada dampak yang dirasakan dari perkawinan anak.

(Foto: Penjelasan Narasumber)

Narasumber juga menjelaskan tentang langkah pencegahan yang bisa dilakukan, antaranya adalah dengan pendidikan seksual sedini mungkin pada anak, menerapkan pola asuh positif dalam keluarga, juga pendekatan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak seperti orang tua, guru, komunitas dan pemerintah.

Tidak hanya pencegahan namun juga dijelaskan strategi multisektor dalam pencegahan perkawinan anak, yaitu optimalisasi kapasitas anak, lingkungkan yang mendukung, aksesibilitas dan perluasan layanan, penguatan regulasi dan kelembagaan, penguatan koordinasi pemangku kepentingan.

Satu hal penting lainnya adalah dengan penyadaran orangtua di rumah, guru di sekolah serta generasi muda akan peran dan tanggungjawab sebagai agen perubahan di masyarakat. Itu bisa dilakukan dengan memberikan edukasi dan pemahaman, membangun dialog dan komunikasi terbuka, meningkatkan peran dan keterlibatan orangtua/guru, mendorong kebijakan dan dukungan pemerintah, pemberdayaan generasi muda, membangun dukungan dan kolaborasi serta mendorong perilaku positif dan norma sosial baru.* (Jeny).

More Posts

Sampai Mana Kasus TPPO Mariance Kabu?

Mariance Kabu (43) adalah seorang penyintas Human Trafficking yang sampai sekarang masih menunggu keadilan. Kasusnya dimulai pada 2015 saat Mariance dipulangkan ke Indonesia dalam keadaan

en_USEnglish