Zero Human Trafficking Network

Connecting People, Make the Movement Visible

YTF Simpul NTT Adakan Pelatihan Kaum Muda Cegah Kasus TPPO

Facebook
Twitter
LinkedIn
Foto Bersama di Akhir Sesi

Dalam rangka edukasi orang muda NTT tentang TPPO dan faktor-faktor pendorong migrasi, YTF Simpul NTT memberikan pelatihan pencegahan dan kampanye media sosial anti TPPO. Pelatihan yang diikuti oleh para mahasiswa Undana ini bertempat di Aula Biara Frateran Bunda Hati Kudus, Oesapa Kupang (20/10/23).

Adapun pelatihan berlangsung selama dua hari, 20-21 Oktober 2023. Pada hari pertama membahas pengantar isu TPPO dan mengulas topik keyakinan dan kekuasaan berbahaya.

Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Eka Munfarida, Direktur KITA Institute. Ia mengapresiasi para mahasiswa sebagai kaum muda yang turut belajar tentang isu TPPO di NTT.

(Foto: Sambutan dari Eka Munfarida)

“Saat ini tak hanya pada orang desa, beragam modus TPPO juga meluas hingga kaum muda” ujarnya. Karena itu, ia mengharapkan forum pelatihan seperti ini menjadi kesempatan kaum muda untuk belajar bersama dan berbagi ilmu serta pengalaman bagi orang di sekitar.

Pada sesi pertama pelatihan, Jeny Laamo dari YTF Simpul NTT, memberikan pengantar tentang isu TPPO. Materi yang ia berikan berjudul “Human Trafficking di Indonesia dan di NTT”.

Jeny terlebih dahulu menjelaskan definisi dan tiga unsur TPPO, lalu menerangkan realita TPPO di Indonesia dan khususnya di NTT.

(Foto: Jeny Laamo memberikan materi)

“TPPO memiliki banyak dampak terhadap masyarakat, khususnya keberlangsungan generasi muda akan terancam” tegasnya.

“Selain itu, regenerasi komunitas juga terhambat karena banyak orang yang keluar desa, atau kembali dengan mengalami cacat fisik/mental dan kematian” tambah Jeny.

Setelah pemaparan materinya, Jenny membagi peserta ke dalam dua kelompok untuk mendiskusikan studi kasus sesuai materi dasar yang telah didapatkan. Setelah itu setiap kelompok memaparkan hasil diskusi untuk dibahas bersama.

(Foto: Peserta mengajukan pertanyaan)

Pada sesi kedua pelatihan, Pdt. Emmy Sahertian memberikan materi tentang “Keyakinan dan Kekuasaan Berbahaya”.

Sebelum masuk dalam materinya, ia membagi peserta dalam tiga kelompok. Setiap kelompok berdiskusi sesuai pertanyaan penuntun dan bergantian memaparkan hasilnya.

Usai berdiskusi bersama, barulah Pdt. Emmy menjelaskan materinya terkait 13 jenis keyakinan dan kekuasaan berbahaya yang berkaitan erat dengan maraknya kasus TPPO.

“Lewat pelatihan ini adik-adik peserta diharapkan menjadi agen perubahan transformatif saat berada di tengah masyarakat” ungkapnya.

(Foto: Presentasi kelompok diskusi)

“Saya merasa senang ikut terlibat dalam kegiatan pelatihan pencegahan TPPO. Apalagi sebelumnya saya belum terlalu tahu isu TPPO” ujar Yuki Levinda salah seorang peserta.

Ia berkomitmen sepulang dari sini bisa turut menyuarakan bahaya dari TPPO. “Mulai dari diri sendiri, orang terdekat, baru orang dari luar sana” tambahnya.

Yuki juga berpesan agar kegiatan ini bisa dilakukan dengan jumlah lebih banyak lagi, agar semakin banyak orang yang tahu dan berjuang bersama mengatasi TPPO.

Riska Koroh peserta lainnya juga mengapresiasi pelatihan ini. Ia mengatakan proses diskusi dalam kelompok amat menarik, karena setiap peserta semakin aktif membagikan pendapat dan pengalaman mereka.

“Semoga kegiatan pelatihan pencegahan TPPO seperti ini harus terus berjalan, supaya tidak hanya kita tetapi juga makin banyak anak muda yang tersadarkan” harapnya

Di akhir kegiatan panitia memberikan sertifikat kepada pembicara. Kegiatan ditutup dengan foto bersama. (Yose)

More Posts

Sampai Mana Kasus TPPO Mariance Kabu?

Mariance Kabu (43) adalah seorang penyintas Human Trafficking yang sampai sekarang masih menunggu keadilan. Kasusnya dimulai pada 2015 saat Mariance dipulangkan ke Indonesia dalam keadaan

id_IDBahasa Indonesia