Zero Human Trafficking Network

Connecting People, Make the Movement Visible

Sr. Sisilia Ketut, SSpS

Facebook
Twitter
LinkedIn

                Mencermati 5 Langkah Pendampingan Korban Kekerasaan Kemanusiaan

Suster Sisilia adalah biarawati dari tarekat SSpS yang  mengepalai Forum Pemberdayaan Perempuan dan Anak (FPPA) di Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Kasus-kasus  pelanggaran kemanusiaan yang sering ditanganinya  antara lain kekerasan rumah tangga, pelecehan seksual anak oleh paman/om dan ayah kandung, kasus perdagangan orang dalam kaitannya dengan migrasi. 

Sr. Selain bersama anak dampingan menjual hasil ketrampilan

Hampir setiap hari, ia selalu mendapat pengaduan tentang tindak kekerasan melawan anak dan perempuan.   Para korban tindak kekerasan sendiri bahkan  mendatanginya untuk mencari tempat berlindung.  Ada 5 pendekatan yang dipakai oleh Suster Sisilia setelah mengadakan diagnosis kepada korban


1. Pendampingan medis: Banyak korban yang datang atau dibawa ke FPPA mengalami luka pukulan, penganiayaan. Maka mereka langsung dirujuk ke Rumah Sakit utuk penanganan medis dan pengobatan yang perlu.

2. Pendampingan hukum: korban didampingi oleh penasehat hukum untuk mengadakan advokasi dan laporan polisi ke pihak-pihak terkait untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran hukum

3. Pendampingan psikologis. Banyak korban yang datang atau diantar ke FPPA dalam keadaan trauma akibat sisksaan baik di rumah maupun di tempat kerja. Mereka didampingi oleh tim trauma healing untuk memulihkan mental yang sudah jatuh

4. Pemdampingan pemberdayaan (usaha ekonomi produktif). Para korban dilatih dan dibekali dengan berbagai ketrampilan seperti menjahit, memasak, berkebun  untuk membangun kepercayaan diri sebagai orang-orang yang produktif dan berguna.

5. Reintegrasi ke dalam keluarga. Para korban yang telah mendapat berbagai pendapingan dikembalikan ke keluarga dan masyarakat.

More Posts

Sampai Mana Kasus TPPO Mariance Kabu?

Mariance Kabu (43) adalah seorang penyintas Human Trafficking yang sampai sekarang masih menunggu keadilan. Kasusnya dimulai pada 2015 saat Mariance dipulangkan ke Indonesia dalam keadaan

id_IDBahasa Indonesia