Zero Human Trafficking Network

Connecting People, Make the Movement Visible

Peringati HUT RI, Talithakum Kupang Gelar Diskusi dan Refleksi Terkait Perdagangan Orang NTT

Facebook
Twitter
LinkedIn

Kupang – Dalam rangka memperingati HUT ke-78 Republik Indonesia, Talithakum Kupang menggelar diskusi dan refleksi bersama terkait perdagangan orang. Kegiatan bertajuk “Sudahkah NTT Merdeka dari Perdagangan Orang” ini dilangsungkan di Kantor WALHI NTT, pada Jumat siang (19/08/23).

Diskusi dan refleksi ini juga menjadi rangkaian peringatan hari internasional menentang perdagangan manusia pada 30 Juli yang lalu. Kegiatan diawali dengan kata sambutan. Pertama, dari Yuven Longa yang mewakili Walhi NTT. Kedua, Sr. Lauren yang mewakili Talithakum Kupang. Kegiatan ini dipandu oleh Cio Subakti selaku moderator.

(Foto: Suasana Kegiatan Diskusi)

Randi Niuflapu dari Youth Task Force (YTF) menjadi pembicara pertama. Ia menyampaikan peran YTF dalam kampanye pencegahan TPPO. Ia mengatakan saat ini anak muda sangat rentan menjadi korban karena kurangnya filterisasi dan verifikasi info loker di media sosial. “Oleh karena itu kampanye di media sosial menjadi salah satu gerakan YTF, demi menjangkau dan mengedukasi banyak kaum muda” ungkap Randi.

Selanjutnya, Fhelti Tampani asal Soe, membagikan kisahnya sewaktu menjadi penyintas. Ia menceritakan pengalamannya sewaktu direkrut untuk bekerja di Jakarta. Adapun sharing pengalaman ini bertujuan menjadi pembelajaran bersama ke depannya.

(Foto: Para Pembicara)

Yonatan Lopo, akademisi Undana menjadi pembicara ketiga, merefleksikan kaitan kemerdekaan dengan isu Human Trafficking. Baginya spirit untuk merdeka didorong oleh keinginan untuk bebas dari eksploitasi manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa.

Menurut Yonatan, human trafficking terjadi karena dua faktor. Pertama, daya dorong daerah asal. Contohnya tidak adanya lapangan kerja atau faktor krisis alam maupun faktor budaya. Kedua, daya tarik daerah tujuan. Contohnya tertarik ketika melihat orang pulang kerja dari Malaysia, yang dulunya rumah bebak tapi sekarang sudah mewah.

“Pada umumnya orang melakukan migrasi melalui bandara dan pelabuhan. Jadi, dua sentra utama pelintas batas ini harus dimaksimalkan fungsi dan perannya sebagai langkah preventif human trafficking” jelas Yonatan.

Sr. Tyas, RVM selaku koordinator Talithakum Kupang menjadi pembicara terakhir.  Sr. Tyas memperkenalkan profil umum Talithakum dan keterlibatan Talithakum Kupang yang baru dari tiga tahun lalu. “Talithakum menjadi jaringan kerjasama spiritual dalam mengusung aksi dan solidaritas. Spiritualitas adalah landasan penting dalam kerja-kerja kemanusiaan” ungkap Sr. Tyas.

(Foto: Peserta memberikan pertanyaan)

Setelah para pembicara memberikan pandangan dan refleksinya, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi. Dalam sesi ini para peserta yang mayoritas kaum muda cukup antusias memberi pertanyaan. Pada akhir sesi diskusi, setiap pembicara memberikan pernyataan penutup sebagai ungkapan melawan TPPO di NTT.

Vito Bria, salah satu peserta, mengatakan dirinya baru pertama kali mengikuti kegiatan dari Talithakum Kupang. “Kegiatan ini bagus sekali, karena yang hadir bukan hanya jaringan relawan saja tetapi juga banyak orang baru dari generasi muda” ungkap Vito mahasiswa Muhammadiyah Kupang. Ia juga berharap dalam momentum HUT ke-78 RI, tak hanya diadakan banyak lomba tetapi juga dibuat kegiatan terkait isu TPPO karena ini merupakan problem krusial di bumi Flobamorata.* (Yose)

More Posts

Sampai Mana Kasus TPPO Mariance Kabu?

Mariance Kabu (43) adalah seorang penyintas Human Trafficking yang sampai sekarang masih menunggu keadilan. Kasusnya dimulai pada 2015 saat Mariance dipulangkan ke Indonesia dalam keadaan

id_IDBahasa Indonesia